ShoutMix chat widget

Selasa, Oktober 05, 2010

Jakarta/Lampung, Breakless







From the desk of Fitra / @fitra666
—————————-
Trip Jakarta – Lampung
Tanggal 9 September 2010 saya mencoba mudik dengan brakeless fixed gear dari Cipayung, Jakarta Timur ke Bandar Jaya, Lampung Tengah. Jarak tempuh kurang lebih 300 km dan harus ditempuh dalam 2 hari. Hari pertama jarak ke Merak sekitar 145 km menurut pengalaman jarak itu dapat ditempuh dalam 8 jam termasuk istirahat dan makan. Perjalanan dimulai jam 3.30 agar dapat sampai Merak jam 12 siang.

Perjalanan ke Merak cukup lancar, sedikit ada masalah degan velcro dari sadle bag yang copot terus walau sudah di perkuat dengan peniti sehingga beberapa kali berhenti dan akhirnya terpaksa dimasukkan ke tas, cukup menambah beban di badan. Agar cepat sampai istirahat dilakukan kurang dari 5 menit hanya untuk minum dan makan kurma, kebanyakan minum dan makan dilakukan sambil riding. Ternyata waktu tempuh lebih cepat dari perkiraan, sekitar jam 9.45 saya sudah sampai di Cilegon, dari Cilegon hanya sekitar 1 jam perjalanan lagi ke Merak, sayangnya hujan turun jadi terpaksa berteduh. Sekitar 1 jam kemudian hujan sudah rintik-rintik akhirnya saya putuskan mencari rumah makan sekalian menunggu hujan benar-benar reda.
Ternyata waktu tempuh lebih cepat dari perkiraan, sekitar jam 9.45 saya sudah sampai di Cilegon, dari Cilegon hanya sekitar 1 jam perjalanan lagi ke Merak
Setelah makan jam 11.30 hujan reda maka saya melanjutkan perjalanan, sempat terpikir untuk menginap di hotel sekitar Merak karena saya belum tahu persis dimana ada penginapan di Lampung, tapi akhirnya saya putuskan untuk menginap di setelah di Lampung saja. Jam 12.15 saya sampai di pelabuhan Merak, ketika membeli tiket kapan fery ternyata tiket untuk sepeda seharga Rp 17,000 tidak tersedia, akhirnya saya dikenakan tiket sepeda motor seharga Rp 28,000. Di dalam kapal sepeda saya kunci di pipa air, lalu naik ke atas menuju ruangan kelas 1 karena saya pikir dengan hanya menambah biaya maksimal sekitar Rp 15,000 saya bisa beristirahat . Ternyata pikiran saya salah, walaupun saya dapat tempat duduk tetapi ruangan kelas 1 penuh sekali karena di ruangan lain AC nya tidak berfungsi sehingga saya tidak bisa beristirahat, kesialan lain bertambah ketika tambahan biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp 30,000. Cukup menyesal karena seharusnya saya bisa beristirahat lebih santai di dek luar tanpa banyak yang mengganggu dan tidak perlu tambah biaya. Jam 14.30 kapal bersandar di dermaga pelabuhan Bakauheni.
Setelah turun dari kapal saya segera bertanya kepada penduduk sekitar dimana penginapan terdekat, jawabannya cukup membuat lemas, penginapan terdekat ada di Kalianda 30 km dari Bakauheni. Setelah ke musholla sebentar saya lanjutkan perjalanan, saya hanya punya waktu 3 jam sebelum gelap, karena night ride di lampung terlalu berbahaya, selain bus & truk juga banyak perampok . Dari awal perjalanan di Lampung sudah disambut sebuah tanjakan yang tinggi. Seingat saya setelah tanjakan ini jalan rata tanpa tanjakan berarti maka dengan yakin saya segera mulai mendaki di iringi sapaan “ halo mister !” “ sehat yah ! “ “ atau “how are you ? “ dari penduduk sekitar, mungkin karena saya terlalu putih hahahaha. Selelah cukup lelah mendaki tanjakan dan mengira penderitaan ini sudah selesai lagi-lagi saya salah, memang benar ada jalan yang datar setelah tanjakan itu tetapi hanya sebentar saja karena telah menunggu beberapa tanjakan lagi di depan.
saya segera mulai mendaki di iringi sapaan “ halo mister !” “ sehat yah ! “ “ atau “how are you ? “ dari penduduk sekitar, mungkin karena saya terlalu putih hahahaha
Sangat melelahkan, beberapa kali istirahat dengan jersey yang basah kuyup dan terpaksa TTB. Sempat hampir menyerah dan berniat untuk minta jemput setelah 6 km mendaki tapi akhirnya mencoba membohongi diri sendiri dengan kalimat sakti : sudah dekat, dan ternyata berhasil membuat saya melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya menemukan posko mudik, disana saya diberi tahu oleh polisi yang bertugas bahwa setelah sebuah tanjakan besar lagi ada penginapan dan jalanan setelah itu sudah rata. Sangat senang mendengarnya, segera saya melanjutkan perjalanan. Setelah mendaki satu tanjakan lagi jalanan berubah menurun dan berkelok, cukup sulit untuk berhenti.
membohongi diri sendiri dengan kalimat sakti : sudah dekat, dan ternyata berhasil membuat saya melanjutkan perjalanan
Akhirnya tepat di ujung turunan terdapat sebuah rumah makan Padang sekaligus hotel, setelah bertanya pada resepsionis ternyata ada sebuah kamar kosong, segera saya check in dan memesan makan malam karena badan sudah sangat lelah sampai kaki kiri saya pincang. Saya tidak tahu persis berapa kilometer tanjakan yang saya tempuh, kalau melihat dari plang alamat di rumah makan sekitar 10 km ditempuh dalam waktu 1,5 jam.
Hari kedua saya bangun jam 5 lalu segera bersiap dan melakukan bike check sambil menunggu sarapan yang dijanjikan datang jam 6.30. Sampai jam 8.00 saya menunggu ternyata sarapan tidak datang juga, setelah saya tanya ternyata sarapan datang jam 9.00 karena restoran yang membuat sarapan belum menyediakan makanan. Karena terlalu lama akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil mencari sarapan di tempat lain, beberapa kilometer kemudian akhirnya ada rumah makan dan segera saya memesan makanan, tidak sesuai bayangan ternyata rasa masakannya kurang enak hahaha tapi yaa dimakan saja. Setelah makan saya segera melanjutkan perjalanan.
Perjalanan di hari kedua cukup mudah, banyak turunan curam yang dapat dilalui dengan cepat karena jalan relatif sepi di hari kedua lebaran, tanjakan cukup banyak tetapi tidak tinggi sehingga masih dapat dilalui tanpa TTB namun karena banyak yaa cukup melelahkan. Mendekati daerah Tarahan sekitar 12 km sebelum Bandar Lampung jalanan mulai menurun dengan curam dan berkelok sekitar 3 km , sangat sulit untuk melambatkan sepeda apalagi saya tahu kalau masih ada sekitar 80 km lagi jarak yang harus di tempuh dan saya tidak mau terlalu banyak skid karena takut ban bocor di jalan. Sebelum ujung turunan akhirnya saya bisa berhenti walau sampai harus masuk ke jalur penyelamat berisi pasir untuk mobil yang rem nya blong lalu TTB ke posko mudik untuk istirahat sebentar.
masih ada sekitar 80 km lagi jarak yang harus di tempuh dan saya tidak mau terlalu banyak skid karena takut ban bocor di jalan
Setelah istirahat dan mengobrol dengan polisi yang sedang bertugas saya melanjutkan TTB karena turunan terakhir ini sangat curam, setelah turunan dilalui maka pedaling dimulai lagi. Saya setelah melewati turunan sekitar jam 11 siang saat itu saya baru merasakan masalah lain, panas matahari di. Beberapa kali saya harus masuk ke minimarket untuk minum dan mendinginkan badan di bawah AC. Selain panas matahari masalah lain adalah jalan yang tidak mulus.
Sebagian besar kontur jalan dari Bandar Lampung sampai Bandar Jaya sejauh 70 km seperti bekas galian kabel telepon yang di aspal ulang, bergelombang, seatpost saya sampai turun 3,5 cm karena terlalu sering terdorong kebawah. Akhirnya setelah cukup lama bertahan dari panas dan jalan bergelombang saya sampai di tujuan jam 15.35. Kulit muka, belakang leher dan betis saya semua merah tebakar matahari, perih tapi senang karena berhasil sampai.
Kulit muka, belakang leher dan betis saya semua merah tebakar matahari, perih tapi senang karena berhasil sampai.
Link foto :
http://www.flickr.com/photos/53940246@N04/sets/  

Sumber :
id-fixed

3 comments:

saya juga mau kelampung nh mas,,doakan supaya sealamat dijaln dan sampai dirumah dengan selamat juga

doakan saya supaya sampai lampung yah mas

@nurohman sahid : gimana masbro perjalanannya? berbagi cerita dong :D

Posting Komentar